Tengoklah mereka yang selalu memandangi kita tulus
Mereka yang selalu merekam apa yang terjadi pada sekitarnya
Mereka yang selalu mengulang perbuatan kita
Entah mereka sadar atau tidak kalau perbuatan itu baik atau kebalikkan dari itu
Ketika mereka menatap seseorang dipukul lantas orang itu membalas memukul
Lalu mereka menyimpulkan ketika terpukul maka pukullah orang yang memukul
Adakah hati kita tersentuh lantas sadarkan diri
Kalau mereka kelak yang akan menjadi dewasa
Dan akan menggantikan tempat dimana sekarang kita berpijak
Rabu, 10 Oktober 2012
Rombak
Tak harus bersandar pada logika
Jika langkah itu telah menguat
Kepakkan sayap lalu mulailah gerakkan
Letih penat abaikan saja
Letih penat abaikan saja
Yang menanti kini lebih berharga dari semua
Busungkan dada dengan penuh gagah
Busungkan dada dengan penuh gagah
Tentukan takdir melalui nafas terhembus
Sirna
Semua sirna...
Seharusnya tak harus terjadi jika ku sadari semua...
Bass sekarang pun tak ada lagi yang bisa diperbuat...
Hanya terdiam disudut sesal mengenang...
Gembira dalam arti yang sebenarnya yang pernah kurasa...
Terima kasih telah mengingatkanku menegurku...
Hidup tak semudah yang pernah terlintas dalam pikiran...
Tak seindah dalam khayalan...
Ternyata kebahagiaan hanya ada dalam novel-novel fiktif...
Seharusnya tak harus terjadi jika ku sadari semua...
Bass sekarang pun tak ada lagi yang bisa diperbuat...
Hanya terdiam disudut sesal mengenang...
Gembira dalam arti yang sebenarnya yang pernah kurasa...
Terima kasih telah mengingatkanku menegurku...
Hidup tak semudah yang pernah terlintas dalam pikiran...
Tak seindah dalam khayalan...
Ternyata kebahagiaan hanya ada dalam novel-novel fiktif...
Pelan-pelan
Semangat hari yang mengembu hinggapi sanubari
Menyerbu nafas yang lelah namun tak nampak
Tenanglah sahabatku
Jangan terburu - buru dalam melangkah
Tengoklah sekelilingmu dan sadarilah
Mentari terbit secara perlahan dari belahan bumi timur sana
Bulan muncul perlahan di malam hari
Angin berhembus pun perlahan menyentuh lembut diri kita
Saat cinta hadir dihati kita pun secara perlahan bukan
Begitu pula dengan doa yang selalu kita lantunkan pada Tuhan kita
Secara perlahan doa itu akan terkabul disaat yang sangat kita butuhkan
Yakinilah dalam hatimu simpanlah dalam memorimu
Menyerbu nafas yang lelah namun tak nampak
Tenanglah sahabatku
Jangan terburu - buru dalam melangkah
Tengoklah sekelilingmu dan sadarilah
Mentari terbit secara perlahan dari belahan bumi timur sana
Bulan muncul perlahan di malam hari
Angin berhembus pun perlahan menyentuh lembut diri kita
Saat cinta hadir dihati kita pun secara perlahan bukan
Begitu pula dengan doa yang selalu kita lantunkan pada Tuhan kita
Secara perlahan doa itu akan terkabul disaat yang sangat kita butuhkan
Yakinilah dalam hatimu simpanlah dalam memorimu
Hidup
Semua tertawa dan aku justru terdiam
Semua bahagia dan aku malah merenung
Apakah lahirku hanya untuk itu?
Ketika anak-anak terlahir di dunia dalam keadaan menangis mengapa aku terdiam
Ketika masa kecil yang seharusnya penuh tawa aku hanya tersenyum
Dimanakah persamaan yang orang selalu ucapkan
Pijakanku semakin jauh dari langkah impian
Mereka berterbangan saling berbisik tertawa gembira
Aku masih dapat melihat, mendengar, merasakan
Namun semua itu sampai kapan?
Penghujung yang tak pernah tahu dimana letaknya
Mengintai teramat lihai hingga tak akan terelakkan
Kembalikan aku Tuhan
Kuasa itu ada padaMu
Semua bahagia dan aku malah merenung
Apakah lahirku hanya untuk itu?
Ketika anak-anak terlahir di dunia dalam keadaan menangis mengapa aku terdiam
Ketika masa kecil yang seharusnya penuh tawa aku hanya tersenyum
Dimanakah persamaan yang orang selalu ucapkan
Pijakanku semakin jauh dari langkah impian
Mereka berterbangan saling berbisik tertawa gembira
Aku masih dapat melihat, mendengar, merasakan
Namun semua itu sampai kapan?
Penghujung yang tak pernah tahu dimana letaknya
Mengintai teramat lihai hingga tak akan terelakkan
Kembalikan aku Tuhan
Kuasa itu ada padaMu
Tentang
Hidup harus memiliki prinsip yang harus kita pegang teguh, namun sebelum
prinsip itu sendiri hadir dalam kehidupan, selayaknya haruslah prinsip
itu sesuai dengan apa yang kita raih. Prinsip yang fleksibel dan mampu
berkolaborasi dengan tatanan waktu yang terus memacu zaman. Cara pandang
dalam menyelami masalah realita pun miliki andil dalam prinsip.
"Ikutilah kebenaran, selama apa yang kau tempati dan dimana kamu
berkiprah itu masih memiliki kebenaran sepantasnya kamu didalamnya. Jika
kebenaran lenyap, ada baiknya kau tinggalkan dia agar tak hilang pula
pijakanmu"
Kamu dan dia adalah sahabatku
Keramaian ini terasa
asing bagi diriku dan sahabatku Halim. Orang-orang yang rapih berbaris
bersalam-salaman bersuka cita dan bercanda ria di gedung ini atas pernikahan
salah seorang teman kami.
Aku memegang pundak
Halim lembut. “Sahabat, apakah kamu mencintainya? Setidaknya menyayanginya?”.
Halim memandangku sejenak. Sedetik, dua detik perlahan ia membalikkan tubuhnya
dan berlalu tanpa mengucapkan apapun. Hanya dengusan yang terdengar, mewakili
beban yang menghimpit dadanya kini.
Malam kian larut dalam
kesunyian. Desis angin yang menghembuskan dingin dalam sanubari. Bukan lagi
sang permaisyuri malam, bahkan kelip para bintang pun ikut menyempurnakan sesak yang kian
membuncah. Sedangkan jasadnya kaku tak berdaya terombang-ambing oleh kenangan.
Kutatap sosok Halim
yang terduduk di teras lantai 3 asrama kami. Menatap lurus langit yang penuh
hinggar binggar oleh semesta. Asap yang berhembus berkali-kali dari mulutnya
cukup memberitahu padaku ia sedang tak ingin diganggu. Aku pun hanya berdiri menjaga
jarak darinya.
“Layakkah aku
mencintainya?” ucapnya tak lama sesampainya aku disampingnya. “Apakah cinta membutuhkan kelayakan sobat? Fitrah
manusia tak pernah dipandang sebagai sebuah kelayakan” jawabku tak lama setelah
dia bertanya.
“Sehebat apapun wanita mencintai dirimu, pada akhirnya ia hanya memiliki
dua sosok dimana cinta diletakkan secara sempurna oleh sang wanita. Yang pertama ialah
orang yang menikahinya, sedangkan seorang lagi ialah orang yang lahir dalam
rahimnya.” Sambungku.
Halim tersenyum sekalipun tak menghapus luka yang tersayat. “Bagaimana
mungkin bisa aku melupakan nasehat itu, padahal belum genap setahun ucapan itu
kita dengar?”. “Kita tak akan mungkin mengingatnya bila saja tak terjalani”.
Sambungku.
Malam kian menepi namun tak kulihat murung lepas dari diri Halim.Bising
suara sound sistem masjid dekat asrama kami mulai terdengar. “Sebaiknya
kita bersiap-siap menyambut shubuh, waktu kita tak banyak untuk membangunkan
anak-anak”. Perlahan kami beranjak dari teras bersama langkah gontai Halim
beriringan denganku.
Reputasi
Dalam fantasi yang
mengila
Semua terpacu dan terus
berbentur
Jalinan yang tersudut
pembuatan jati dirikini pun tak Nampak karena kabut
Atau bahkan telah
menghilang tak jelas dimana
Semua terlalu mudah
dirinya mmbabi buta
Kau hanya terdiam disudutmu
Dan aku terpukul
disudut yang lain
Dasar siapa yang
menjadi setan alas
Kau atau dia yang kini
bercampur
Mengkontaminasi kehidupna
yang tak pernah menyala dan mengalir
Hitam putih semua sama
Kau yang samakan dan
aku yang merespon dalam realitamu dan dia
Tarian LAngit
Menari dalam pangkuan
Bergelut pada naungan
Manusia stabilitator keadaan
Dan kalian sang pembunuh
Tengoklah garis lintang yang membentang
Memisahkan sesuatu yang dahulu telah terpaut jauh
Jangan hanya terdiam
Kepalkan tangan lalu sambut yang menjadikanmu takdir
Biarkanlah hari berlalu dalam poros sang bulan
Bergelut pada naungan
Manusia stabilitator keadaan
Dan kalian sang pembunuh
Tengoklah garis lintang yang membentang
Memisahkan sesuatu yang dahulu telah terpaut jauh
Jangan hanya terdiam
Kepalkan tangan lalu sambut yang menjadikanmu takdir
Biarkanlah hari berlalu dalam poros sang bulan
Langganan:
Postingan (Atom)