Keramaian ini terasa
asing bagi diriku dan sahabatku Halim. Orang-orang yang rapih berbaris
bersalam-salaman bersuka cita dan bercanda ria di gedung ini atas pernikahan
salah seorang teman kami.
Aku memegang pundak
Halim lembut. “Sahabat, apakah kamu mencintainya? Setidaknya menyayanginya?”.
Halim memandangku sejenak. Sedetik, dua detik perlahan ia membalikkan tubuhnya
dan berlalu tanpa mengucapkan apapun. Hanya dengusan yang terdengar, mewakili
beban yang menghimpit dadanya kini.
Malam kian larut dalam
kesunyian. Desis angin yang menghembuskan dingin dalam sanubari. Bukan lagi
sang permaisyuri malam, bahkan kelip para bintang pun ikut menyempurnakan sesak yang kian
membuncah. Sedangkan jasadnya kaku tak berdaya terombang-ambing oleh kenangan.
Kutatap sosok Halim
yang terduduk di teras lantai 3 asrama kami. Menatap lurus langit yang penuh
hinggar binggar oleh semesta. Asap yang berhembus berkali-kali dari mulutnya
cukup memberitahu padaku ia sedang tak ingin diganggu. Aku pun hanya berdiri menjaga
jarak darinya.
“Layakkah aku
mencintainya?” ucapnya tak lama sesampainya aku disampingnya. “Apakah cinta membutuhkan kelayakan sobat? Fitrah
manusia tak pernah dipandang sebagai sebuah kelayakan” jawabku tak lama setelah
dia bertanya.
“Sehebat apapun wanita mencintai dirimu, pada akhirnya ia hanya memiliki
dua sosok dimana cinta diletakkan secara sempurna oleh sang wanita. Yang pertama ialah
orang yang menikahinya, sedangkan seorang lagi ialah orang yang lahir dalam
rahimnya.” Sambungku.
Halim tersenyum sekalipun tak menghapus luka yang tersayat. “Bagaimana
mungkin bisa aku melupakan nasehat itu, padahal belum genap setahun ucapan itu
kita dengar?”. “Kita tak akan mungkin mengingatnya bila saja tak terjalani”.
Sambungku.
Malam kian menepi namun tak kulihat murung lepas dari diri Halim.Bising
suara sound sistem masjid dekat asrama kami mulai terdengar. “Sebaiknya
kita bersiap-siap menyambut shubuh, waktu kita tak banyak untuk membangunkan
anak-anak”. Perlahan kami beranjak dari teras bersama langkah gontai Halim
beriringan denganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar