Rabu, 10 Oktober 2012

Kamu dan dia adalah sahabatku



Keramaian ini terasa asing bagi diriku dan sahabatku Halim. Orang-orang yang rapih berbaris bersalam-salaman bersuka cita dan bercanda ria di gedung ini atas pernikahan salah seorang teman kami.
Aku memegang pundak Halim lembut. “Sahabat, apakah kamu mencintainya? Setidaknya menyayanginya?”. Halim memandangku sejenak. Sedetik, dua detik perlahan ia membalikkan tubuhnya dan berlalu tanpa mengucapkan apapun. Hanya dengusan yang terdengar, mewakili beban yang menghimpit dadanya kini.
Malam kian larut dalam kesunyian. Desis angin yang menghembuskan dingin dalam sanubari. Bukan lagi sang permaisyuri malam, bahkan kelip para bintang pun ikut menyempurnakan sesak yang kian membuncah. Sedangkan jasadnya kaku tak berdaya terombang-ambing oleh kenangan.
Kutatap sosok Halim yang terduduk di teras lantai 3 asrama kami. Menatap lurus langit yang penuh hinggar binggar oleh semesta. Asap yang berhembus berkali-kali dari mulutnya cukup memberitahu padaku ia sedang tak ingin diganggu. Aku pun hanya berdiri menjaga jarak darinya.
“Layakkah aku mencintainya?” ucapnya tak lama sesampainya aku disampingnya. “Apakah cinta membutuhkan kelayakan sobat? Fitrah manusia tak pernah dipandang sebagai sebuah kelayakan” jawabku tak lama setelah dia bertanya.  
“Sehebat apapun wanita mencintai dirimu, pada akhirnya ia hanya memiliki dua sosok dimana cinta diletakkan secara sempurna oleh sang wanita. Yang pertama ialah orang yang menikahinya, sedangkan seorang lagi ialah orang yang lahir dalam rahimnya.” Sambungku.
Halim tersenyum sekalipun tak menghapus luka yang tersayat. “Bagaimana mungkin bisa aku melupakan nasehat itu, padahal belum genap setahun ucapan itu kita dengar?”. “Kita tak akan mungkin mengingatnya bila saja tak terjalani”. Sambungku.
Malam kian menepi namun tak kulihat murung lepas dari diri Halim.Bising suara sound sistem masjid dekat asrama kami mulai terdengar. “Sebaiknya kita bersiap-siap menyambut shubuh, waktu kita tak banyak untuk membangunkan anak-anak”. Perlahan kami beranjak dari teras bersama langkah gontai Halim beriringan denganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar